Mahasiswa UNY Mengajar di Daerah Perkebunan Sawit, Temukan Wajah Indonesia dari Anak-Anak PAUD Kapuas Hulu

Suara kendaraan pengangkut pekerja kebun mulai terdengar ketika hari masih gelap. Di tengah keterbatasan listrik, air bersih yang hanya mengalir dua kali sehari, serta sinyal yang hilang timbul, semangat masyarakat terhadap pendidikan tetap hidup di sebuah wilayah perkebunan sawit di Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. Pengalaman tersebut dirasakan langsung oleh Alma’idah Rahmadanthi Suryana, mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), saat mengikuti program UNY Mengajar di PAUD Terpadu Tunas Prima Khatulistiwa, Desa Nanga Kenepai, Kecamatan Semitau. Selama kurang lebih lima bulan, Alma’idah terlibat langsung dalam kegiatan pembelajaran anak usia dini melalui observasi, mengajar terbimbing, hingga mengajar mandiri di Kelas B. Namun, bagi Alma’idah, kegiatan UNY Mengajar bukan sekadar menjalankan program kampus atau mengajarkan huruf dan angka kepada anak-anak. Di daerah yang termasuk wilayah 3T (terdepan, terluar, dan tertinggal) tersebut, ia justru belajar memahami arti perjuangan pendidikan dari masyarakat sekitar. “Yang paling membuat saya tersentuh adalah orang tua di sini tetap menganggap pendidikan itu penting. Sesibuk apa pun mereka bekerja di perkebunan, mereka tetap menyempatkan mengantar anak-anak ke sekolah atau ke tempat menunggu bus sejak setengah enam pagi, bahkan mereka juga masih menyempatkan hadir ketika ada acara di sekolah anaknya.” ungkap Alma’idah. Pemandangan tersebut menjadi pengalaman yang membekas baginya. Anak-anak usia PAUD yang biasanya identik dengan berangkat sekolah lebih siang justru sudah bersiap sejak pagi buta demi mendapatkan pendidikan. Di tengah keterbatasan fasilitas, Alma’idah tetap berupaya menghadirkan pembelajaran yang kreatif dan menyenangkan bagi peserta didik. Ia menggunakan berbagai metode bermain sambil belajar, seperti mengenal huruf dan angka, menulis nama sendiri, kolase, permainan edukatif, kegiatan seni, hingga pembuatan media pembelajaran sederhana. Perlahan, perkembangan anak-anak mulai terlihat. Beberapa anak yang awalnya belum mengenal huruf dan angka kini mulai mampu mengenali dan menulis namanya sendiri. “Hal sederhana seperti anak yang akhirnya bisa menulis namanya sendiri itu menjadi kebahagiaan besar bagi saya,” katanya. Tidak hanya belajar tentang pendidikan, Alma’idah juga menemukan keberagaman budaya yang hidup di lingkungan sekolah tersebut. Anak-anak berasal dari berbagai suku dan daerah dengan warna kulit serta latar belakang yang berbeda, namun mereka bermain dan belajar tanpa membedakan satu sama lain. Momentum Hari Kartini menjadi salah satu pengalaman yang paling berkesan baginya. Saat itu, anak-anak mengenakan pakaian adat sesuai daerah asal masing-masing. “Di sana saya merasa benar-benar melihat Indonesia yang nyata. Saya jadi mengenal banyak suku dan budaya yang sebelumnya belum pernah saya ketahui,” ujarnya. Menurut Alma’idah, keterbatasan fasilitas di daerah perkebunan sawit tidak mengurangi semangat belajar anak-anak maupun semangat masyarakat terhadap pendidikan. Pengalaman tersebut justru mengajarkannya tentang rasa syukur, ketulusan, kemampuan beradaptasi, serta makna menjadi seorang pendidik. Melalui program UNY Mengajar, Alma’idah berharap semakin banyak mahasiswa yang mau terjun langsung ke daerah dengan keterbatasan akses pendidikan agar dapat memahami realitas pendidikan Indonesia secara lebih dekat sekaligus memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat (ARS).