Dari Gagasan Jadi Nyata, Mahasiswa Belajar melalui Implementasi Pembelajaran Montessori di GIS 3 Jogja

Yogyakarta — Global Islamic School (GIS) 3 Jogja menghadirkan program Montessori pada tahun ajaran ini sebagai bagian dari pembelajaran intrakurikuler yang dilaksanakan satu kali dalam seminggu. Gagasan program Montessori telah dikembangkan sejak sekitar dua tahun lalu dan mulai dipersiapkan secara intensif sejak tahun sebelumnya. Program ini tidak menggantikan pembelajaran yang sudah ada, tetapi menjadi bagian untuk memperkuat pembelajaran di kelas, terutama dalam menumbuhkan kemandirian dan memberikan pengalaman belajar secara langsung. “Yang ingin kami kuatkan terutama adalah kemandirian anak dan pengenalan konsep secara konkret melalui hands-on learning,” ujar Miss Lily selaku Koordinator Program Montessori. Pengalaman langsung diterapkan melalui penggunaan material yang benar-benar nyata, seperti material kayu menggunakan kayu asli, mangkuk dari kaca, hingga pengenalan bilangan 1.000 menggunakan jumlah material yang benar-benar mencapai 1.000.

Kemandirian juga dibangun melalui aktivitas sehari-hari, seperti membiasakan anak mengambil sapu kecil dan membersihkan makanan yang terjatuh. Setiap aktivitas Montessori disesuaikan dengan usia dan tahap perkembangan anak serta memiliki tujuan dan capaian pembelajaran yang jelas. Sebelum kegiatan dimulai, guru memberikan pijakan untuk mengenalkan cara penggunaan media. Setelah itu, anak dapat mengeksplorasi berbagai media yang telah disediakan sesuai dengan minat dan kebutuhannya. Penerapan pendekatan Montessori juga menjadi lebih mudah dalam lingkungan GIS yang telah terbiasa dengan pembelajaran bilingual, mengingat Montessori memiliki dasar pendidikan internasional yang cukup dominan menggunakan Bahasa Inggris. Kehadiran program ini sekaligus menunjukkan keterbukaan GIS terhadap berbagai pendekatan pembelajaran untuk memperkaya pengalaman belajar anak.Gambar 1 Media yang digunakan dalam kegiatan Montessori di GIS 3 Jogja.

Pada pelaksanaan awal, anak-anak menunjukkan antusiasme yang tinggi terhadap kegiatan Montessori. “Anak-anak sangat antusias mencoba berbagai aktivitas Montessori. Rasa ingin tahu mereka terlihat dari keinginan untuk terus mengeksplorasi,” ujar Sofia Arsanti, mahasiswa yang melakukan praktik kependidikan. Antusiasme tersebut sekaligus menjadi tantangan bagi pendidik untuk menjaga rasa ingin tahu anak tanpa mengabaikan aturan dalam kegiatan Montessori. Suci Novia, mahasiswa yang melakukan praktik kependidikan, menilai perpaduan Montessori dengan pembelajaran kelas menjadi salah satu hal yang menarik. “Montessori di GIS menarik karena dapat menyatu dengan pembelajaran kelas tanpa menghilangkan karakter pembelajaran yang sudah ada,” ungkapnya.

Program Montessori di GIS 3 Jogja memiliki keterkaitan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) poin 4 tentang Pendidikan Berkualitas melalui pembelajaran yang disesuaikan dengan tahap perkembangan anak, pengalaman langsung, serta ruang eksplorasi yang diberikan dalam proses belajar. Melalui program ini, GIS 3 Jogja berupaya menyediakan lingkungan belajar yang memberikan kesempatan kepada anak untuk mengeksplorasi minat, memperoleh pengalaman belajar yang bermakna, serta mengembangkan kemandirian yang dapat diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari (SA, SN).